17 July 2010

Keluarga Keduaku

Malam itu, hening sekali. Sepi menyelimuti sosok remaja perempuan yang duduk sendirian di kamarnya. Dinginnya malam menusuk tubuh mungil remaja perempuan itu. Saat itu dibenaknya kerinduan yang mendalam melandanya. Kerinduan pada keluarga keduanya.

Arina duduk di bangku SMA. Masa di mana waktu berlangsung secara cepat, tanpa disadari oleh siapapun yang merasakannya. Masa sosok remaja tumbuh menjadi jauh lebih dewasa disertai rasa keingintahuan yang besar. Pengambilan rapor baru saja dilewati Rina. Itu artinya, saat ini Rina duduk di bangku kelas tiga.

Kelas tiga. Masa pembelajaran yang lebih singkat dari biasanya. Begitu pula saat yang tepat untuk melepaskan segala organisasi ataupun ekstrakulikuler yang mengikat Rina selama dua tahun belakangan. Bagi sebagian orang, kelas tiga merupakan masa-masa serius selama bangku SMA. Dan masa-masa yang suram tanpa ada kesantaian sedikitpun.

Bagi Rina, kelas tiga merupakan hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Senang bahwa Rina semakin cepat menjeput cita-citanya, yaitu menjadi seorang dokter. Menyedihkan, karena Rina harus melepaskan organisasinya yang selama ini dia mengabdikan diri selama dua tahun lamanya.

Di sana Rina menemukan kebahagiaan tersendiri, kebahagiaan yang tak bisa ditemukan di tempat yang lain. Rina tumbuh sangat pesat menjadi sosok gadis remaja yang mandiri karena keluarga keduanya. Suka dan sedih Rina lewati bersama keluarga keduanya.

Dua tahun yang silam, tepatnya setelah masa MOS (Masa Orientasi Siswa). Rina memutuskan untuk bergabung pada ekstrakulikuler PMR (Palang Merah Remaja). Ekskul ini dipilih agar Rina lebih mendekatkan pada cita-citanya serta karena meneruskan ilmu PMR-nya yang pernah ia geluti di bangku SMP.

Pada beberapa kegiatan awal ekskul tersebut, Rina merasakan kenyamanan. Ekskul yang mengedepankan kekeluargaan, keharmonisan, dan kemandirian. Hal itu membuat Rina jatuh cinta pada ekskul tersebut.

Tetesan airmata yang belakangan selalu tertahan di kelopak matanya, akhirnya jatuh. Tak kuat Rina menahan rasa rindu yang mendalam pada ekskul dan segala yang ada di dalamnya. Tak terkecuali pada teman-temannya. Teman yang menemani Rina membuat dan menyelesaikan proker (Program kerja). Teman yang menguatkan Rina saat terjatuh.

Dua tahun sudah terlewati. Airmatanya semakin tak karuan menetes pada baju Rina. Rina teringat saat ia merasakan menjadi junior, junior yang sepantasnya menghormati para seniornya. Hingga akhirnya merasakan jadi seorang senior yang harus menjaga dan membimbing dengan sabar para junior-nya. Kenangan yang tak mungkin Rina lupakan. Bajunya semakin basah, isak tangis Rina mewarnai malam itu.

Masa liburan kali ini, lebih banyak dihabiskan Rina dengan merenung. Tak lama, handphone Rina berbunyi tanda bunyi sms masuk. “Na, aku kangen nih sama anak-anak.” Ucap Okta. “Sama, aku juga kangen banget sama kalian,” balas Rina. Sms dari Okta “Oke, kalau gitu gimana kalau kita kumpul-kumpul atau jalan-jalan sama anak-anak kayak dulu. Gimana?”. Rina membalas, “okeee sayang. I love you guys!”

Hari dan tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Tak lama teman-teman semakin berdatangan. Sepanjang hari dihabiskan Rina bersama dengan teman-temannya. Canda tawa mewarnai siang itu, kebahagiaan datang saat itu. Rina pun merasakannya, ia terlihat bahagia karena akhirnya bisa bertemu dan berkumpul bersama-sama lagi.

Keramaian siang itu, membuat Rina kembali termenung. Sudah seharusnya aku bersikap dewasa. Membiasakan lepas dari semua yang mengikat di hatinya. Mencoba mengikhlaskan segala sesuatu yang harus Rina tinggalkan. Toh aku juga masih bisa bertemu mereka saat aku rindu. Ujar Rina dalam benaknya.

“Na, na, naaaa!!!!!” panggil Okta yang mengagetkan Rina dari lamunannya. Rina yang langsung menoleh hanya bisa tersenyum bahagia. Senyum-senyum nggak jelas. Teman-temannya hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda heran pada Rina.

No comments:

Post a Comment