17 July 2010

Sahabat itu “ADA”


Sahabat itu “ADA”
Oleh Anisah Fathinah,
Pelajar SMAN 16 Surabaya

“Nesya, tolong sapu halaman depan ya!” Perintah mama pada Nesya. Nesya menjawab, “iya ma.” Nesya segera mengambil sapu yang berada di dekat dapur. Dan bergegas menyapu halaman depan rumahnya, yang sudah sangat kotor oleh debu-debu dan dedaunan yang berjatuhan di halaman. Saat Nesya sedang menyapu, tiba-tiba teman sekolah-nya yang kebetulan lewat di depan rumah Nesya berhenti, “Nes, Citra kecelakaan cukup parah dan ia saat ini ada di rumah sakit” kata Nadia dengan nada penuh cemas. Nesya sangat kaget mendengar berita yang disampaikan oleh Nadia tadi. Ia sangat cemas dan khawatir kepada Citra. Citra adalah salah satu sahabat Nesya yang baik, periang dan cantik.

“Teman-teman, Citra teman kita mengalami kecelakaan yang cukup parah dan s
aat ini sedang berada di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan ini pada saat ia sedang perjalanan ke sekolah dan bertabrakan dengan mobil.” kata Nesya mengabarkan tentang Citra kepada sahabat-sahabatnya. Saat itu Nesya sudah berkumpul dengan Rani, Dinda, dan Ana. Mereka semua adalah sahabat-sahabat Nesya.
Setelah mereka berunding, mereka semua memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sore itu juga. Mereka sangat sayang kepada Citra dan sangat khawatir dengan kondisi Citra. Akhirnya sore itu juga mereka berangkat.
Setelah berada di rumah sakit, ia tidak langsung bertemu dengan Citra. Karena Citra masih berada di ruang isolasi dan masih belum sadar dari kecelakaan tadi siang. Pada saat mereka menunggu di ruang tunggu, seseorang korban kecelakaan memasuki UGD, kondisi-nya sangat parah ia dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tak lama setelah memasuki UGD, ia meninggal dunia. Diiringi isak tangis para keluarganya.

“Ana, aku takut banget kalau nantinya akan kehilangan Citra” kata Rani pada Ana. Diiringi isak tangis. “Udah Ran, kamu tenang ya, Citra pasti baik-baik aja kok” Jawab Ana menenangkan temannya. Setengah jam kemudian. “Tante, gimana keadaan Citra?” Tanya Dinda. “Masih belum sadarkan diri dan kata dokter, Citra mengalami gagar otak. Tolong do’akan Citra agar cepat sadar ”Jawab mama Citra“. Amiin.. iya tante, pasti kami do’akan kok” jawab mereka semua. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan itu artinya mereka tidak mungkin pulang, karena hari sudah larut malam sedangkan rumah mereka jauh. Dengan penuh pengorbanan mereka semua menginap di UGD, mereka tiduran di ruang tunggu walaupun mereka tidak bisa tidur karena mereka menjadi makanan nyamuk dan dinginnya malam.

Hari telah berganti dan pagi pun telah datang. Sampai saat ini, Citra masih belum sadarkan diri. Sekitar pukul 09.00 pagi, teman-teman Nesya lainnya datang ke UGD. Sedangkan Nesya, Ana, Dinda, dan Rani berpamitan pulang karena mereka semua sejak kemarin berada di sana.

Tiga hari berlalu, Nesya mencari kabar tentang keadaan Citra dan ternyata Citra masih juga belum dapat membuka matanya walaupun kakinya sudah dapat bergerak.

Satu minggu setelah kecelakaan itu berlalu. Akhirnya yang ditunggu- tunggu Nesya tiba, yaitu Citra telah sadarkan diri walaupun kondisinya masih lemah. Nesya dan teman- temannya sangat senang sekali mendengar kabar itu. Saat itu juga mereka semua memutuskan untuk pergi ke rumah sakit lagi.

Setelah berada di depan kamar Citra, mereka langsung masuk dan bertemu dengan mama Citra. Mereka sangat senang sekali dapat bertemu dengan Citra untuk pertama kalinya setelah kejadian itu terjadi, tetapi mereka sangat kaget dengan kondisi rambut Citra. Tapi, mereka semua tetap bersyukur masih dapat bertemu dengan Citra. Citra masih dalam kondisi lemah, dan saat itu ia sedang tidur.

“Citra, ayo bangun. Disini ada teman-teman mu datang.” Kata mama Citra membangunkan Citra. “Iya Cit, bangun dong, aku sama yang lain kangen sama kamu” Dinda mencoba membangunkan Citra. Citra mencoba beberapa kali membuka matanya, tapi ia masih belum mau berbicara. Ia masih malu dengan kondisinya saat ini. “Hai yuk, gimana kabar–mu?” Tanya Ana pada Citra. Citra hanya menjawabnya dengan senyuman.

“Tante, gimana keadaannya Citra kok bisa seperti itu?” Tanya Nesya penasaran. “Jadi begini, Citra itu kemarin dioperasi dan dalam operasi itu di kepala-nya terjadi pembekuan darah akibat gagar otak. Sehingga kondisinya jadi seperti itu. Dan untuk saat ini, Citra masih belum terlalu ingat. Maksudnya, Citra mengalami gangguan pada kepalanya karena pada saat kecelakaan Citra terbentur cukup keras. Sehingga Citra mengalami amnesia sementara, sampai kondisi-nya benar-benar pulih” Mama Citra menjelaskan.

Satu minggu kemudian, akhirnya Citra pulang ke rumahnya. Keesokan harinya, Nesya dan teman-temannya pergi ke rumah Citra. “Hai Cit, masih inget aku nggak?” sapa Nesya. Citra terlihat memikirkan sesuatu, dia mencoba untuk mengingat-ingat nama temannya tersebut. Citra masih belum bisa menjawab, dan Citra hanya bisa tersenyum pada Nesya.

“Cit, yang tadi itu namanya Nesya, trus yang ada di sebelah Nesya ada Rani, dan di sebelah kiri kamu ada Ana” Kata Dinda menyebutkan nama teman-temannya kepada Citra dengan penuh sabar.

Citra terlihat mengingat-ingat nama temannya tersebut. “Ana, Nesya, Rani, Dinda” kata Citra dengan perlahan-lahan dan sambil menunjuk kearah teman-temannya itu. “Aku nggak bisa membaca seperti kalian semua, Citra juga nggak bisa sekolah seperti kalian” kata Citra berkata polos. “Kamu itu ngomong apa sih, kamu itu bisa membaca kok, kamu juga pintar dan kalau kamu sudah sembuh pasti kamu akan kembali bersekolah” jawab Dini dengan penuh semangat.

Hari demi hari, Nesya dan teman-temannya bergantian berkunjung ke rumah Citra, agar Citra dapat mengingat-ingat semuanya. Semakin hari, Citra sudah mulai dapat memulihkan kepercayaan dirinya dan mulai dapat mengingat masa lalu yang pernah dialaminya.

Satu minggu kemudian, setelah Citra benar-benar pulih, ia akhirnya melanjutkan sekolah yang telah ia tinggalkan selama satu bulan. Citra sangatlah beruntung dapat memiliki sahabat-sahabat yang baik. Dan sahabat akan selalu ada disaat kita suka maupun duka.


Sekilas Kegiatan PMR di SMAN 16 Surabaya

Sekilas Kegiatan PMR di SMAN 16 Surabaya

Kegiatan PMR SMAN 16 Surabaya. Seluruh kegiatannya menerapkan Tri Bakti PMR, maupun Sapta Prinsip. Kegiatannya bersifat positif serta meningkatkan jiwa sosial. 

Berikut diantaranya beberapa kegiatan PMR di SMAN 16 Surabaya. Yaitu, Donor Darah (donda), kegiatan ini dilakukan setiap tahun, yang terlaksana hingga 3 kali. Kegiatan ini dibantu oleh pihak PMI. Yang melibatkan para siswa-siswi SMAN 16 Surabaya, para guru, dan para alumni sebagai pendonornya. Biasanya sekali acara donor darah dilaksanakan, pihak PMI berhasil mendapatkan pendonor kurang lebih seratus orang. Untuk seluruh pengeluaran biaya donda ini, anggota-anggota PMR mengumpulkan dana melalui iuran anggota PMR kelas satu dan dua. Serta hasil penjualan barang bekas (barbek) yang terlebih dahulu kita kumpulkan selama beberapa hari. Para anggota PMR sama sekali tidak memakai dana dari sekolah dan kas PMR. Kegiatan di atas dapat dikaitkan dengan Sapta Prinsip yang pertama dan kelima. Yaitu kemanusiaan dan kesukarelaan.

Kegiatan selanjutnya, bakti sosial (baksos). Kegiatan ini dilaksanakan 2 kali dalam setahun. Kegiatan baksos kita mengumpulkan uang maupun barang layak pakai yang akan disumbangkan kepada pihak yang berhak. Seperti kepada panti asuhan. Untuk uang, anggota PMR mengumpulkannya lewat iuran dan hasil penjualan barang bekas. Sedangkan untuk barang, kita mengumpulkannya pada anak-anak PMR pada khususnya, dan umumnya, para siswa-siswi SMAN 16 Surabaya. Baik berupa pakaian bekas namun layak pakai, buku-buku yang sudah tidak terpakai, dan sebagainya yang sekiranya masih bisa dipakai dan bermanfaat. Turut serta juga para alumni yang membantu. Kegiatan tersebut sangat berkaitan dengan tri bakti yang pertama, yaitu berbakti kepada masyarakat.

Beberapa kegiatan yang diatas, merupakan kegiatan anak PMR pada umumnya. Namun kegiatan secara khusus diantaranya adalah mengadakan TL (Teknik Lapangan), yang merupakan pertemuan anggota-anggota PMR yang biasanya diadakan pada hari sabtu setiap pekannya. Diantara kegiatannya adalah praktek PP (Pertolongan Pertama), PK (Perawatan Keluarga), teori atau materi. Dan untuk menghindari kejenuhan pada adik-adik kelas, para anggota senior PMR, terkadang memberikan selingan materi berupa outbound maupun permainan. Sehingga, seluruh kegiatan TL dilakukan seperti ini, untuk menghindari kejenuhan.

Kemudian, makan-makan bareng. Seperti rujak-an. Kegiatan ini sudah menjadi tradisi PSC (PMR Sixteen Crew) tiap tahunnya. Yang mempunyai beberapa tujuan. Diantaranya, membuat angkatan semakin kompak, mempererat tali persaudaraan antar angkatan dan antar organisasi di sekolah karena kita juga berbagi rujak pada mereka. Yang semua hal itu berkaitan dengan tri bakti PMR ke-3. Yaitu mempererat tali persaudaraan nasional dan internasional.

Beberapa kegiatan di atas, sudah menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan PMR memang berkaitan erat dengan sapta prinsip dan Tri Bakti PMR. Serta mempunyai banyak manfaat yang akan didapat apabila termasuk dalam anggota PMR.

By : SMAN 16 Surabaya

CITA-CITA DAN PERJUANGAN MENCAPAINYA


CITA-CITA DAN PERJUANGAN MENCAPAINYA
 
Pada dasarnya semua orang memiliki suatu kesempatan. Dan entah kesempatan itu dipergunakannya dengan baik ataupun malah diabaikannya. Tergantung pada kepribadian masing-masing mau berusaha atau tidak dalam memperjuangkan cita-citanya.

Kalau saya pribadi sih, saya sangat ingin cita-cita saya dapat tercapai. Yaitu menjadi seorang dokter. Bagi saya, menjadi dokter merupakan cita-cita yang tidak mudah dalam pencapaiannya dan memerlukan biaya yang cukup banyak. Walau begitu, saya tidak akan menyerah akan hal-hal demikian. Bagi saya, kalaupun ada niat dan terus berusaha tanpa ada kata menyerah hal itu akan membuat kita semakin dekat dengan cita-cita itu.

Jujur saja, kemampuan saya memang tidak terlalu jenius seperti kebanyakan seorang dokter. Kemampuan saya hanya biasa-biasa saja seperti orang-orang lain. Walau hanya bermodal begitu, saya yakin dengan kesungguhan kita dan kerajinan kita dalam belajar hal-hal yang semula mustahil akan dapat tercapai dengan mudah.

Ya senggak-nggaknya, pencapaiannya dapat memulai dari kecil dalam pendekatan cita-cita tersebut. Misal, kita mengakrabkan diri dengan hal-hal yang berbau medis dengan tidak ngeri melihat darah berceceran atau tidak takut dengan suara-suara histeris pasien yang kesakitan. Dengan hal-hal yang demikian itu, juga dapat dijadikan modal dan agar lebih mantap dalam menghadapi hal-hal demikian saat perguruan tinggi nanti.

Atau juga dengan cara, pada saat memasuki masa-masa SMP dan SMA kita mengikuti ekstrakulikuler PMR (Palang Merah Remaja) yang dimana ekskul itu berkaitan erat dengan hal-hal medis. Di PMR, juga akan dibekali materi dasar dalam penanganan pasien-pasien yang menderita suatu penyakit yang dengan demikian kita juga berkesempatan membantu sedikit demi sedikit teman-teman kita yang sakit di UKS (Unit Kesehatan Sekolah). Dan kalau bisa, kita dapat seaktif mungkin dalam organisasi tersebut agar kita dapat mengusulkan suatu kegiatan. Misal, melakukan kunjungan ke UGD (Unit Gawat Darurat) dan kunjungan itu merupakan praktek kita dalam menangani pasien sebenarnya bukan simulasi lagi. Dengan demikian, hal itu akan menjadi pengalaman kita sebelum menjadi seorang dokter dan dapat melatih kepiawaian dalam menangani pasien saat menjadi dokter nanti.

Oya, percaya nggak? kalau di sekeliling kita ternyata banyak orang-orang yang jenius akan tetapi dia tidak memiliki cita-cita yang tinggi, bahkan cenderung tidak menjadi orang yang sukses. Sedangkan orang-orang yang mempunyai kemampuan biasa-biasa saja, tetapi mempunyai kemauan cita-cita yang tinggi dan diimbangi dengan kesungguhan akan dapat menjadi seseorang yang sukses.

Jadi, untuk apa kita takut gagal dalam mencapai cita-cita. Karena semua orang berhak akan kesempatan menjadi sukses. Kalaupun gagal, tidak ada kata menyerah untuk calon orang sukses. Karena sekali gagal ia akan berusaha tidak mengulanginya kembali dan berusaha menjadi lebih baik. Itulah perjuangan orang sukses.

Keluarga Keduaku

Malam itu, hening sekali. Sepi menyelimuti sosok remaja perempuan yang duduk sendirian di kamarnya. Dinginnya malam menusuk tubuh mungil remaja perempuan itu. Saat itu dibenaknya kerinduan yang mendalam melandanya. Kerinduan pada keluarga keduanya.

Arina duduk di bangku SMA. Masa di mana waktu berlangsung secara cepat, tanpa disadari oleh siapapun yang merasakannya. Masa sosok remaja tumbuh menjadi jauh lebih dewasa disertai rasa keingintahuan yang besar. Pengambilan rapor baru saja dilewati Rina. Itu artinya, saat ini Rina duduk di bangku kelas tiga.

Kelas tiga. Masa pembelajaran yang lebih singkat dari biasanya. Begitu pula saat yang tepat untuk melepaskan segala organisasi ataupun ekstrakulikuler yang mengikat Rina selama dua tahun belakangan. Bagi sebagian orang, kelas tiga merupakan masa-masa serius selama bangku SMA. Dan masa-masa yang suram tanpa ada kesantaian sedikitpun.

Bagi Rina, kelas tiga merupakan hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Senang bahwa Rina semakin cepat menjeput cita-citanya, yaitu menjadi seorang dokter. Menyedihkan, karena Rina harus melepaskan organisasinya yang selama ini dia mengabdikan diri selama dua tahun lamanya.

Di sana Rina menemukan kebahagiaan tersendiri, kebahagiaan yang tak bisa ditemukan di tempat yang lain. Rina tumbuh sangat pesat menjadi sosok gadis remaja yang mandiri karena keluarga keduanya. Suka dan sedih Rina lewati bersama keluarga keduanya.

Dua tahun yang silam, tepatnya setelah masa MOS (Masa Orientasi Siswa). Rina memutuskan untuk bergabung pada ekstrakulikuler PMR (Palang Merah Remaja). Ekskul ini dipilih agar Rina lebih mendekatkan pada cita-citanya serta karena meneruskan ilmu PMR-nya yang pernah ia geluti di bangku SMP.

Pada beberapa kegiatan awal ekskul tersebut, Rina merasakan kenyamanan. Ekskul yang mengedepankan kekeluargaan, keharmonisan, dan kemandirian. Hal itu membuat Rina jatuh cinta pada ekskul tersebut.

Tetesan airmata yang belakangan selalu tertahan di kelopak matanya, akhirnya jatuh. Tak kuat Rina menahan rasa rindu yang mendalam pada ekskul dan segala yang ada di dalamnya. Tak terkecuali pada teman-temannya. Teman yang menemani Rina membuat dan menyelesaikan proker (Program kerja). Teman yang menguatkan Rina saat terjatuh.

Dua tahun sudah terlewati. Airmatanya semakin tak karuan menetes pada baju Rina. Rina teringat saat ia merasakan menjadi junior, junior yang sepantasnya menghormati para seniornya. Hingga akhirnya merasakan jadi seorang senior yang harus menjaga dan membimbing dengan sabar para junior-nya. Kenangan yang tak mungkin Rina lupakan. Bajunya semakin basah, isak tangis Rina mewarnai malam itu.

Masa liburan kali ini, lebih banyak dihabiskan Rina dengan merenung. Tak lama, handphone Rina berbunyi tanda bunyi sms masuk. “Na, aku kangen nih sama anak-anak.” Ucap Okta. “Sama, aku juga kangen banget sama kalian,” balas Rina. Sms dari Okta “Oke, kalau gitu gimana kalau kita kumpul-kumpul atau jalan-jalan sama anak-anak kayak dulu. Gimana?”. Rina membalas, “okeee sayang. I love you guys!”

Hari dan tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Tak lama teman-teman semakin berdatangan. Sepanjang hari dihabiskan Rina bersama dengan teman-temannya. Canda tawa mewarnai siang itu, kebahagiaan datang saat itu. Rina pun merasakannya, ia terlihat bahagia karena akhirnya bisa bertemu dan berkumpul bersama-sama lagi.

Keramaian siang itu, membuat Rina kembali termenung. Sudah seharusnya aku bersikap dewasa. Membiasakan lepas dari semua yang mengikat di hatinya. Mencoba mengikhlaskan segala sesuatu yang harus Rina tinggalkan. Toh aku juga masih bisa bertemu mereka saat aku rindu. Ujar Rina dalam benaknya.

“Na, na, naaaa!!!!!” panggil Okta yang mengagetkan Rina dari lamunannya. Rina yang langsung menoleh hanya bisa tersenyum bahagia. Senyum-senyum nggak jelas. Teman-temannya hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda heran pada Rina.