Spirit
Oleh Anisah Fathinah,
Pelajar SMAN 16 Surabaya
Masa-masa remaja. Ya, tepatnya saat aku duduk di bangku SMA. Dimana masa-masa indah dan sedih kulewati secara bergantian, yang membuatku terkadang pusing memikirkannya. Namaku Aminah, biasa dipanggil dengan sebutan “Nah”.
Kulewati hari-hariku, layaknya teman-temanku yang lain. Belajar dan sekolah- lah kegiatan rutinku sehari-hari.
Namun, yang membedakan diriku dengan temanku yang lain adalah, aku tercatat sebgai anggota beberapa ekskul di sekolah-ku. Di sekolah yang kusayangi dan kurindukan yaitu “SMAN 25” salah satu SMA favorit di sebuah kota besar.
Aku sadar, sesadar-sadarnya, bahwa semua keputusan akan ada konsekuensi dan tanggung-jawabnya sendiri-sendiri. Untuk itu, aku berusaha agar dapat membagi waktu.
Ya… akhir-akhir ini, aku memang lebih fokus dengan kegiatanku di ekskul, daripada mengikuti pelajaran. Aku benar-benar ingin memberikan kontribusi yang terbaik untuk ekskul-ku. Walaupun taruhannya adalah pelajaranku di sekolah menjadi terbengkalai.
Terkadang kegiatan masing-masing ekskul sering berada dalam waktu yang sama. Itupun belum ditambah dengan kegiatan les, kerja kelompok, atau apa-lah. Itu semua membuatku tertantang, walaupun memang terkadang bisa menjadi beban pikiran yang berlebihan bahkan stres.
Mungkin di balik semua itu, kita dapat mengambil hikmahnya. Aku beruntung bisa mendapatkan pengalaman berorganisasi yang mungkin, orang lain tidak memilikinya. Beruntung dapat belajar lebih sabar dalam menghadapi hidup ini.
Ekskul mading-lah yang sebentar lagi akan ada event besar bagi anak mading. Aku mewakili untuk lomba membuat artikel. Untuk itu, aku merasa memiliki tanggung jawab yang besar dan berusaha memberikan yang terbaik. Kulakukan sepenuhnya dengan sukacita.
Event ini, memang benar-benar menyita banyak waktuku. Syukur banyak pihak yang mendukungku, membuat aku semakin bersemangat. Hari demi hari berlalu, dan pameran mading-pun dimulai. Berbagai karya dari sekolah-sekolah di kotaku ditampilkan. Semakin sore para pengunjung terus berdatangan, membuat tempat pameran semakin ramai.
Tepat hari Sabtu, lomba menulis artikel dimulai. Tempat perlombaannya di arena pameran mading ini juga. Terlihat perwakilan dari sekolah-sekolah lain serius membuat artikel, hingga sempat membuatku patah semangat untuk melanjutkan artikel ini. Aku hanyalah murid yang biasa saja, tanpa ada pengalaman sedikitpun dalam hal tulis-menulis.
Namun, sebulan yang lalu, sebelum perlombaan ini dimulai, aku sudah berusaha mencoba berbagai cara untuk berlatih. Mulai dari menulis diary, puisi, surat, tulisan-tulisan pendek mengomentari aneka peristiwa, dan membaca buku sebanyak-banyaknya.
Intinya, aku terus berlatih dengan cara terus menulis, membaca, dan menulis. Satu bulan kulakukan semua itu, dan hanya itulah modalku. Jika ada tambahan modal, adalah adanya semacam spirit bahwa ayahku seorang penulis, yang mudah-mudahan menurunkan bakatnya kepadaku.
Tanpa berpikir lebih panjang lagi, aku meneruskan artikelku yang sempat aku hentikan karena terganggu oleh lamunanku.
Panasnya siang itu, membuat arena lomba semakin ramai. Teman-temanku, juga ramai berdatangan mendukungku. “Ayo Nah, semangat!”, ujar teman-temanku. Dukungan mereka membuatku semakin bersemangat. “Aku harus bisa! Aku harus bisa membuktikan dan memberikan hasil yang terbaik!”, tekadku dalam hati.
Pukul 15.00. Hari semakin sore. Semua artikel telah diselesaikan dan dikumpulkan kepada panitia. Selagi menunggu pengumuman yang akan diumumkan pukul 19.00, aku bergabung dengan teman-temanku. Kulewati sisa waktu itu dengan bercanda bersama teman-teman, sambil melihat karya-karya mading.
Tak terasa, arloji di tanganku menunjukkan pukul 19.00, artinya pengumuman pemenang lomba mading dan artikel akan dibacakan. Berdebar hatiku dan ada perasaan takut kalah.
Aku takut jika aku tidak siap kalah sekalipun aku sadar bahwa aku belum pantas memenangkan perlombaan ini mengingat diriku hanyalah seorang penulis pemula. Namun demikian, ketika itu aku tetap berpengharapan dalam hati, bahwa setidak-tidaknya aku bisa mendapatkan juara 3. Itulah harapan besar dariku.
Dimulai dari pembacaan pemenang lomba mading. Saya bersyukur mading sekolahku mendapatkan juara 2 untuk kategori SMA. Setelah itu, giliran pembacaan juara lomba artikel. Dimulai dari pembacaan pemenang juara harapan 1 dan 2. Namaku tak kunjung juga disebut. Giliran juara 3 dibacakan. Aku semakin deg-degan. Tetap, namaku tak juga disebut. Pupus semua harapan besarku. Namun, itu tak lama. Sesaat kemudian, kudengar namaku disebut-sebut. Aku terheran-heran saat melihat teman-teman menyorakiku dan memberikan ucapan selamat. Aku tak percaya, benar-benar tak percaya, bahwa aku dinyatakan sebagai juara 1. Kemenangan sebagai juara 1 itu tak pernah kubayangkan sebelumya. Ketika itu, yang kurasakan adalah senang luar biasa. Alhamdulillah!
Semua pihak yang mendukungku, bergiliran memberikan ucapan selamat kepadaku dan kubalas dengan ucapan terima kasih. Keluargaku pun demikian, sangat senang mendapat kabar itu, terutama ayahku. Memang, ayahku-lah yang selalu memotivasiku untuk menulis, bahkan sejak aku masih kecil.
“Ayah, terima kasih!” []
No comments:
Post a Comment