Sahabat itu “ADA”
Oleh Anisah Fathinah,
Pelajar SMAN 16 Surabaya
“Nesya, tolong sapu halaman depan ya!” Perintah mama pada Nesya. Nesya menjawab, “iya ma.” Nesya segera mengambil sapu yang berada di dekat dapur. Dan bergegas menyapu halaman depan rumahnya, yang sudah sangat kotor oleh debu-debu dan dedaunan yang berjatuhan di halaman. Saat Nesya sedang menyapu, tiba-tiba teman sekolah-nya yang kebetulan lewat di depan rumah Nesya berhenti, “Nes, Citra kecelakaan cukup parah dan ia saat ini ada di rumah sakit” kata Nadia dengan nada penuh cemas. Nesya sangat kaget mendengar berita yang disampaikan oleh Nadia tadi. Ia sangat cemas dan khawatir kepada Citra. Citra adalah salah satu sahabat Nesya yang baik, periang dan cantik.
“Teman-teman, Citra teman kita mengalami kecelakaan yang cukup parah dan s
aat ini sedang berada di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan ini pada saat ia sedang perjalanan ke sekolah dan bertabrakan dengan mobil.” kata Nesya mengabarkan tentang Citra kepada sahabat-sahabatnya. Saat itu Nesya sudah berkumpul dengan Rani, Dinda, dan Ana. Mereka semua adalah sahabat-sahabat Nesya.
Setelah mereka berunding, mereka semua memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sore itu juga. Mereka sangat sayang kepada Citra dan sangat khawatir dengan kondisi Citra. Akhirnya sore itu juga mereka berangkat.
Setelah berada di rumah sakit, ia tidak langsung bertemu dengan Citra. Karena Citra masih berada di ruang isolasi dan masih belum sadar dari kecelakaan tadi siang. Pada saat mereka menunggu di ruang tunggu, seseorang korban kecelakaan memasuki UGD, kondisi-nya sangat parah ia dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tak lama setelah memasuki UGD, ia meninggal dunia. Diiringi isak tangis para keluarganya.
“Ana, aku takut banget kalau nantinya akan kehilangan Citra” kata Rani pada Ana. Diiringi isak tangis. “Udah Ran, kamu tenang ya, Citra pasti baik-baik aja kok” Jawab Ana menenangkan temannya. Setengah jam kemudian. “Tante, gimana keadaan Citra?” Tanya Dinda. “Masih belum sadarkan diri dan kata dokter, Citra mengalami gagar otak. Tolong do’akan Citra agar cepat sadar ”Jawab mama Citra“. Amiin.. iya tante, pasti kami do’akan kok” jawab mereka semua. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan itu artinya mereka tidak mungkin pulang, karena hari sudah larut malam sedangkan rumah mereka jauh. Dengan penuh pengorbanan mereka semua menginap di UGD, mereka tiduran di ruang tunggu walaupun mereka tidak bisa tidur karena mereka menjadi makanan nyamuk dan dinginnya malam.
Hari telah berganti dan pagi pun telah datang. Sampai saat ini, Citra masih belum sadarkan diri. Sekitar pukul 09.00 pagi, teman-teman Nesya lainnya datang ke UGD. Sedangkan Nesya, Ana, Dinda, dan Rani berpamitan pulang karena mereka semua sejak kemarin berada di sana.
Tiga hari berlalu, Nesya mencari kabar tentang keadaan Citra dan ternyata Citra masih juga belum dapat membuka matanya walaupun kakinya sudah dapat bergerak.
Satu minggu setelah kecelakaan itu berlalu. Akhirnya yang ditunggu- tunggu Nesya tiba, yaitu Citra telah sadarkan diri walaupun kondisinya masih lemah. Nesya dan teman- temannya sangat senang sekali mendengar kabar itu. Saat itu juga mereka semua memutuskan untuk pergi ke rumah sakit lagi.
Setelah berada di depan kamar Citra, mereka langsung masuk dan bertemu dengan mama Citra. Mereka sangat senang sekali dapat bertemu dengan Citra untuk pertama kalinya setelah kejadian itu terjadi, tetapi mereka sangat kaget dengan kondisi rambut Citra. Tapi, mereka semua tetap bersyukur masih dapat bertemu dengan Citra. Citra masih dalam kondisi lemah, dan saat itu ia sedang tidur.
“Citra, ayo bangun. Disini ada teman-teman mu datang.” Kata mama Citra membangunkan Citra. “Iya Cit, bangun dong, aku sama yang lain kangen sama kamu” Dinda mencoba membangunkan Citra. Citra mencoba beberapa kali membuka matanya, tapi ia masih belum mau berbicara. Ia masih malu dengan kondisinya saat ini. “Hai yuk, gimana kabar–mu?” Tanya Ana pada Citra. Citra hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Tante, gimana keadaannya Citra kok bisa seperti itu?” Tanya Nesya penasaran. “Jadi begini, Citra itu kemarin dioperasi dan dalam operasi itu di kepala-nya terjadi pembekuan darah akibat gagar otak. Sehingga kondisinya jadi seperti itu. Dan untuk saat ini, Citra masih belum terlalu ingat. Maksudnya, Citra mengalami gangguan pada kepalanya karena pada saat kecelakaan Citra terbentur cukup keras. Sehingga Citra mengalami amnesia sementara, sampai kondisi-nya benar-benar pulih” Mama Citra menjelaskan.
Satu minggu kemudian, akhirnya Citra pulang ke rumahnya. Keesokan harinya, Nesya dan teman-temannya pergi ke rumah Citra. “Hai Cit, masih inget aku nggak?” sapa Nesya. Citra terlihat memikirkan sesuatu, dia mencoba untuk mengingat-ingat nama temannya tersebut. Citra masih belum bisa menjawab, dan Citra hanya bisa tersenyum pada Nesya.
“Cit, yang tadi itu namanya Nesya, trus yang ada di sebelah Nesya ada Rani, dan di sebelah kiri kamu ada Ana” Kata Dinda menyebutkan nama teman-temannya kepada Citra dengan penuh sabar.
Citra terlihat mengingat-ingat nama temannya tersebut. “Ana, Nesya, Rani, Dinda” kata Citra dengan perlahan-lahan dan sambil menunjuk kearah teman-temannya itu. “Aku nggak bisa membaca seperti kalian semua, Citra juga nggak bisa sekolah seperti kalian” kata Citra berkata polos. “Kamu itu ngomong apa sih, kamu itu bisa membaca kok, kamu juga pintar dan kalau kamu sudah sembuh pasti kamu akan kembali bersekolah” jawab Dini dengan penuh semangat.
Hari demi hari, Nesya dan teman-temannya bergantian berkunjung ke rumah Citra, agar Citra dapat mengingat-ingat semuanya. Semakin hari, Citra sudah mulai dapat memulihkan kepercayaan dirinya dan mulai dapat mengingat masa lalu yang pernah dialaminya.
Satu minggu kemudian, setelah Citra benar-benar pulih, ia akhirnya melanjutkan sekolah yang telah ia tinggalkan selama satu bulan. Citra sangatlah beruntung dapat memiliki sahabat-sahabat yang baik. Dan sahabat akan selalu ada disaat kita suka maupun duka.
No comments:
Post a Comment