Berdakwah tak
hanya di depan orang banyak ya Sahabat, banyak sarananya. Melalui sosmed oke,
bicara di depan umum oke, tulisan oke, seni peran oke juga. So, choose your
passion. Mau kan saat hayat tak dikandung badan, yang diingat oleh saudara,
teman kita “oh yang dulu saat muda giat berdakwah ya? Yang dulu rajin ke
masjid? Yang dulu penghafal Al-Qur’an?” MasyaAllah.
Hamas Syahid
Izzuddin kelahiran 11 Maret 1992 ini, memulai karir sebagai pemain film. Adapun
alasan ia terjun ke dunia seni peran bukan untuk mencari ketenaran. Melainkan anak
pertama diantara empat bersaudara tersebut ingin berdakwah. Caranya? film
tersebut harus bermuatan dakwah. Jika sang ibu sering berdakwah secara langsung
maupun melalui dunia politik, Hamas justru ingin berdakwah melalui sarana seni
peran. Berikut petikan sharing dari kak Hamas ketika ditemui seusai memberikan motivasi
pada anak muda di Surabaya dengan tema “Life style for Moslem”.
Jelang Ramadhan, apa kesibukan Hamas Syahid?
Sekarang lagi promosi film ketiga
Duka Sedalam Cinta, kemudian sedang typing program Ramadhan dan program Hafidz
Quran di salah satu stasiun TV.
Kenapa memilih seni peran sebagain jalan dakwah?
Sejak kecil, saya
memang berkeinginan menjadi aktor idealistis. Dengan tetap berpegang teguh pada
prinsip seorang muslim yang taat, dia ingin film-film yang dibintanginya
membawa dampak pengaruh positif bagi masyarakat umum. Khususnya anak-anak muda.
Saat syuting film sedang memasuki masa jeda. Untuk mengisi waktu kosong, Hamas
berusaha menghafalkan 30 juz Al-Qur'an. Hafalan itu bukan untuk materi film,
melainkan kepentingannya sendiri, khususnya sebagai jalan dakwah.
Apa didikan orang tua yang menjadi motivasi hingga saat ini?
Hamas menyebut,
Umi sangat berperan penting dalam mewujudkan cita-citanya. Ibunya merupakan
seorang guru. Baik guru mengaji, akting, hingga bisnis. Dari kecil Umi
mengajarkan 3 hal: Untuk selalu mengingat Allah dimanapun dan kapanpun,
menjadikan Rasulullah SAW sebagai satu-satunya idola dan senantiasa mencintai
Al-Qur’an. Alhamdulillah proses hafalan saya dimulai dari Umi. Lalu, Abah saya
mengajarkan untuk menjadi seseorang yang disiplin dan tekun setiap harinya
terutama yang berhubungan dengan masalah waktu sholat, sekolah, belajar harus
runtut dan jelas.
Sebagai pembica dengan target anak-anak muda, nilai apa yang ingin
disampaikan?
Materi lebih fokus
pada pengembangan diri, karena anak muda sekarang sedang bingung. Mereka tidak tahu
arah akan dibawa kemana visi-misi hidupnya, sehingga menjadikan artis-artis
luar yang tidak seiman sebagai idolanya, mereka ikut-ikutan idolanya padahal
mereka mencontohkan yang tidak baik. Kemudian lebih mengajak anak-anak muda
untuk lebih menemukan passion/ jati diri mereka untuk lebih mencintai Al-Qur’an
dan Rasulullah SAW.
Ada cerita hijrah yang bisa dibagikan?
Waktu SMA, ketika saya mencari
jati diri layaknya burung yang ingin terbang dari sangkarnya. Sebab, selama ini
lingkungan keluarga sudah agamis sejak kecil. Sehingga ketika SMA, menemukan sesuatu
yang baru dan ingin mencoba hal-hal yang baru. Namun ketika lulus SMA saya menemukan
lagi jalan-Nya, saya bertemu teman-teman yang Alhamdulillah saling mengingatkan
sehingga saya berproses lagi dan kembali lagi.
Menjadi penghafal Al-Quran itu keinginan sendiri atau awalnya dorongan
orang tua?
Awalnya karena
terbiasa dan setelah memahami keutamaannya apa saja, jadi lebih semangat dalam
menghafal Al-Qur’an.
Bisa di-share 3 cara menjaga
hafalan?
Lebih sering
murojaah, menjauhi maksiat, kumpul dengan teman-teman yang hafidz quran juga
karena akan lebih memotivasi diri ketika berkumpul dengan mereka. Sehingga
semangat akan terus ter-upgrade.
InsyaAllah
dengan passion yang kita miliki makin
nikmat dalam menebar ajaran agama yang indah dan Rahmatan lil alamin, yang
terpenting adalah apa yang kita jalani sejalan dengan prinsip hidup kita, yaitu
nilai-nilai islam (AF).
No comments:
Post a Comment