28 May 2017

Hamas Syahid: Berdakwah Dengan Passion


Berdakwah tak hanya di depan orang banyak ya Sahabat, banyak sarananya. Melalui sosmed oke, bicara di depan umum oke, tulisan oke, seni peran oke juga. So, choose your passion. Mau kan saat hayat tak dikandung badan, yang diingat oleh saudara, teman kita “oh yang dulu saat muda giat berdakwah ya? Yang dulu rajin ke masjid? Yang dulu penghafal Al-Qur’an?” MasyaAllah.

Hamas Syahid Izzuddin kelahiran 11 Maret 1992 ini, memulai karir sebagai pemain film. Adapun alasan ia terjun ke dunia seni peran bukan untuk mencari ketenaran. Melainkan anak pertama diantara empat bersaudara tersebut ingin berdakwah. Caranya? film tersebut harus bermuatan dakwah. Jika sang ibu sering berdakwah secara langsung maupun melalui dunia politik, Hamas justru ingin berdakwah melalui sarana seni peran. Berikut petikan sharing dari kak Hamas ketika ditemui seusai memberikan motivasi pada anak muda di Surabaya dengan tema “Life style for Moslem”.

Jelang Ramadhan, apa kesibukan Hamas Syahid?
Sekarang lagi promosi film ketiga Duka Sedalam Cinta, kemudian sedang typing program Ramadhan dan program Hafidz Quran di salah satu stasiun TV.

Kenapa memilih seni peran sebagain jalan dakwah?
Sejak kecil, saya memang berkeinginan menjadi aktor idealistis. Dengan tetap berpegang teguh pada prinsip seorang muslim yang taat, dia ingin film-film yang dibintanginya membawa dampak pengaruh positif bagi masyarakat umum. Khususnya anak-anak muda. Saat syuting film sedang memasuki masa jeda. Untuk mengisi waktu kosong, Hamas berusaha menghafalkan 30 juz Al-Qur'an. Hafalan itu bukan untuk materi film, melainkan kepentingannya sendiri, khususnya sebagai jalan dakwah.

Apa didikan orang tua yang menjadi motivasi hingga saat ini?
Hamas menyebut, Umi sangat berperan penting dalam mewujudkan cita-citanya. Ibunya merupakan seorang guru. Baik guru mengaji, akting, hingga bisnis. Dari kecil Umi mengajarkan 3 hal: Untuk selalu mengingat Allah dimanapun dan kapanpun, menjadikan Rasulullah SAW sebagai satu-satunya idola dan senantiasa mencintai Al-Qur’an. Alhamdulillah proses hafalan saya dimulai dari Umi. Lalu, Abah saya mengajarkan untuk menjadi seseorang yang disiplin dan tekun setiap harinya terutama yang berhubungan dengan masalah waktu sholat, sekolah, belajar harus runtut dan jelas.

Sebagai pembica dengan target anak-anak muda, nilai apa yang ingin disampaikan?
Materi lebih fokus pada pengembangan diri, karena anak muda sekarang sedang bingung. Mereka tidak tahu arah akan dibawa kemana visi-misi hidupnya, sehingga menjadikan artis-artis luar yang tidak seiman sebagai idolanya, mereka ikut-ikutan idolanya padahal mereka mencontohkan yang tidak baik. Kemudian lebih mengajak anak-anak muda untuk lebih menemukan passion/ jati diri mereka untuk lebih mencintai Al-Qur’an dan Rasulullah SAW.

Ada cerita hijrah yang bisa dibagikan?
Waktu SMA, ketika saya mencari jati diri layaknya burung yang ingin terbang dari sangkarnya. Sebab, selama ini lingkungan keluarga sudah agamis sejak kecil. Sehingga ketika SMA, menemukan sesuatu yang baru dan ingin mencoba hal-hal yang baru. Namun ketika lulus SMA saya menemukan lagi jalan-Nya, saya bertemu teman-teman yang Alhamdulillah saling mengingatkan sehingga saya berproses lagi dan kembali lagi.

Menjadi penghafal Al-Quran itu keinginan sendiri atau awalnya dorongan orang tua?
Awalnya karena terbiasa dan setelah memahami keutamaannya apa saja, jadi lebih semangat dalam menghafal Al-Qur’an.

Bisa di-share 3 cara menjaga hafalan?
Lebih sering murojaah, menjauhi maksiat, kumpul dengan teman-teman yang hafidz quran juga karena akan lebih memotivasi diri ketika berkumpul dengan mereka. Sehingga semangat akan terus ter-upgrade.


InsyaAllah dengan passion yang kita miliki makin nikmat dalam menebar ajaran agama yang indah dan Rahmatan lil alamin, yang terpenting adalah apa yang kita jalani sejalan dengan prinsip hidup kita, yaitu nilai-nilai islam (AF).

No comments:

Post a Comment