28 December 2010

Tiada Kebohongan yang tak Terungkap


Tiada Kebohongan yang tak Terungkap
Olah Anisah Fathinah
Pelajar SMAN 16 Surabaya

Brakkk!!! Suara pintu terbuka dengan keras, membuatku terbangun dari tidur. Lagi-lagi, nyaris setiap hari ayah pulang larut malam tentunya dalam keadaan mabuk. Malam itu udara sangat dingin dan berhasil membuatku sulit untuk memejamkan mata lagi. Hatiku semakin sedih, mengingat kelakuan ayah yang semakin hari semakin tidak aturan.
Dua bulan yang lalu. Ayah, ibu, dan aku hidup sangat bahagia. Aku beruntung dapat memiliki orangtua yang sangat perhatian. Namun sore itu, semua berubah sangat drastis. Ayah telah dipecat dari kantornya sebagai manager salah satu perusahaan swasta ternama di ibukota. Lantaran Pak Yusuf difitnah, hingga direkturnya memecat dia. Ayah sempat sangat down, hingga akhirnya berhasil dibujuk oleh ibu untuk mencari pekerjaan baru. “Sudahlah yah, kita harus tetap bersabar dan berusaha lagi. Semua ini pasti akan ada hikmahnya.” Ucap ibu menenangkan ayah. Semenjak itu, untuk membantu kebutuhan sehari-hari, ibu membuka jasa layanan jahit baju yakni satu-satunya keterampilan yang dimiliki oleh ibu.
           Usaha ayah seakan sia-sia, berpuluh-puluh perusahaan telah ia datangi, namun tak satu pun perusahaan yang mau menerima lamaran kerjanya. Saat ini aku duduk di bangku salah satu SMA favorit di sebuah ibukota. Nilaiku di sekolah cukup bagus dan berprestasi. Untuk itu aku memberanikan diri untuk mengajar siswa SD (Sekolah Dasar). Kudatangi satu persatu rumah, di perumahan elite dekat rumahku.
          Secerca harapan menghampiriku, sesaat setelah seorang nyonya besar yang sedang membutuhkan guru les untuk anaknya. Beliau mengatakan, anaknya memang sulit dikendalikan jika disuruh belajar. Bahkan pernah tidak naik kelas, karena nilainnya sangat jelek. Beliau berharap si Vira dapat menjadi guru private bagi Alya dengan baik.
         Vira menyanggupi pemintaan nyonya besar itu, dia berjanji akan berusaha keras untuk mengajari dan membimbing Alya dengan baik. Hati Vira bersorak ria, senang mendapat pekerjaan dan menghasilkan uang yang lumayan.
        Sore itu sepulang sekolah, jadwal Vira mengelesi Alya dimulai hari ini. Tepat pukul 16.00 WIB, les itupun dimulai. Alya yang sedang menunggu di ruang belajar tiba-tiba tersenyum dan menyapa Vira. “Halo kakak yang cantik! Selamat datang!” Alya mengatakan dengan tulus dengan senyum yang ramah. “Halo juga adik manis, semangat buat belajar ya!” balas Vira.
         Dua jam pun berlalu, tak terasa waktu untuk ngelesi Alya telah selesai. Sebenarnya tak begitu sulit untuk mengajari Alya, bahkan dia sebenarnya anak yang cerdas. Ungkap Vira dalam hati. Namun mengapa Alya sampai pernah tidak naik kelas? Sungguh mengherankan!
         Hari demi hari pun berlalu, bulan demi bulan berganti secara cepat. Tak terasa pula sudah satu semester Vira mengelesi Alya. Belakangan Vira juga mengerti bahwa Alya adalah salah satu korban dari broken home. Kedua orang tuanya tak pernah memberikan perhatian padanya, dan hampir setiap hari dia di rumah sendirian. Orang tuanya sama-sama sibuk bekerja. Itupun saat berada di rumah, kedua orangtuanya kerap kali bertengkar. Kasian Alya, putri tunggal yang hidup dalam kesendirian dan ketertekanan.
        Alya melaju sangat pesat, sangat cerdas. Ulangan hariannya rata-rata bernilai 100. Dan tiba waktu ulangan akhir semester bagi Alya. Dia mengerjakan dengan penuh ketenangan dan kesantaian, lantaran semua soal dapat ia kerjakan dengan mudah. Satu minggu kemudian, saat pengambilan rapot. Kedua orang tuanya terkejut saat mendapati bahwa purinya, Alya Putri Syafitri mendapat total nilai di urutan ketiga. Alhamdulillah, Alya rangking tiga.
        Rasa haru menghinggapi orang tua Alya. Ucapan terima kasih tak henti-hentinya diberikan kepada Vira. Tentunya dengan penambahan honornya. Mereka juga penasaran dengan latar belakang keluarga Alya. Akhirnya orang tua Alya berharap dapat berkunjung ke rumah Vira.
       Hari sabtu pun datang, hari yang telah disepakati akan berkunjung ke rumah Vira. Vira segera mempersilahkan masuk kedua orang tua Alya ke ruang tamu. Di sana ternyata sudah ada kedua orang tua Vira juga.
        Betapa kagetnya si ayah Alya, melihat Pak Yusuf ayah Vira berhadapan dengan dia. Merinding sekujur tubuhnya, tetesan air matanya tak mampu dibendung lagi di kedua kelopak matanya. Pak Sanjaya mengangis.
Semua yang ada di ruang tersebut, sontak menoleh dan heran melihat sikap Pak Sanjaya. Setelah cukup tenang, Pak sanjaya pun bercerita. “Pak Yusuf, Bu Yusuf, sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya khilaf bu, pak. Sebenarnya saya yang meng-kambing hitamkan bapak. Hingga fitnah timbul. Saya yang merencanakan semua itu. Hingga bapak dipecat. Saya iri dengan bapak. Setiap tahun bapak selalu naik pangkat. Begitu juga yang mengatur hingga berpuluh perusahaan tidak dapat menerima lamaran bapak. Sekali lagi saya minta maaf.” Hening.
        Pak Yusuf angkat bicara, “Sudahlah pak, saya juga sudah dapat menerima ini dengan ikhlas dan memaafkan bapak. Asalkan bapak tidak mengulangi lagi.” Suasana sangat mengharukan. Pak Yusuf dan Pak Sanjaya saling berpelukan, tanda perdamaian dan saling memaafkan.

No comments:

Post a Comment