Ekskul, Part I
Anisah Fathinah, siswi yang berperawakan kecil, kurus, dan berkacamata
Suka banget ikut organisasi dan ekskul.
Seperti yang telah dibahas sedikit di posting yang berjudul “Putih Abu-abu, Part I” aku ikut ekskul PMR (Palang Merah Remaja).
Itu satu –satunya ekskul yang aku ikuti sewaktu kelas X.
Dan bertambah dua ekskul lagi. Yaitu ekskul Mading dan Masis.
Dua ekskul tersebut, baru aku geluti saat aku duduk di kelas 2.
Ekskul PMR
Sewaktu TM pertama, belum banyak peminat ekskul ini.
Tapi aku tetap bersemangat dengan suka cita mengikuti ekskul ini.
Tahunku, merupakan angkatan ke-21 di PSC (PMR Sixteen Crew).
Jadi, aku anggota PSC 21
Kegiatan pertama setelah TM, ialah TL (Teknik Lapangan).
Yaitu kegiatan yang diadakan setiap hari sabtu. Dan wajib memakai kaos lengan panjang dan celana training selama TL.
Pelatih PMR di 16, yaitu Pak Joko Sanjaya. Biasa dipanggil Pak San
Di sini diajarkan praktik PP (Pertolongan Pertama), PK (Perawatan Keluarga).
Juga macam –macam kasus medis.
Oya, peraturan TL juga cukup ketat.
Sebelum TL dimulai, semua wajib mengikuti pemanasan, lari – lari kecil muter kawasan 16.
Lalu dilanjutkan push-up sebanyak 16 kali sesuai angka sekolah-ku *ini sudah jadi tradisi terdahulu*
Beberapa hari berlalu, kita mulai menyusun proker pertama, menjadi panitia buber (buka bersama).
Dan lanjut acara Halal Bihalal.
Agar aku resmi menjadi anggota PMR di Surabaya, seluruh anggota wajib mengikuti Dikat SAR.
Ya secara khusus, diklat kali ini semacam pengenalan antar angkatan, senior, dan alumni.
Secara umum, diklat kali ini merupakan pemberian badge dan pin PMR sewaktu pelantikan.
Yang akan dipasang di sebelah kiri seragam putih abu – abu
Diklat SAR dilaksanakan selama dua hari, pada 14-15 November 2008 di Claket – Mojokerto.
Jujur, aku sempat kaget dengan diklat kali ini.
Suasana selama dua hari dibikin setegang mungkin.
Anggota baru yang melenceng dari koridor peraturan, ”sedikit” diberi bentakan.
Anggota baru diajak untuk berdisiplin tinggi.
Para senior tak henti – hentinya mengingatkan dan menyisipkan tradisi kekompakkan selama acara.
Apalagi dengan seangkatan, harus KOMPAK. *Satu senang, semua juga harus senang* <- itu prinsipnya.
Satu lagi, di PSC kita merupakan satu keluarga. Tidak ada membeda –bedakan.
Jika salah satu anggota mempunyai suatu masalah, maka seangkatan dengan senang hati membantu.
Di diklat ini, aku juga baru ngerasain beberapa kegiatan yang asing menurutku.
Mulai dari post test PP, Mid test, Evakuasi pagi, Caraka malam, SSB (Siap Siaga Bencana), hingga pelantikan yang berkesan.
Yang paling berkesan itu Caraka malam dan SSB.
Caraka malam: Kegiatan yang dilakukan tengah malam di hutan, aku harus melewati beberapa pos sendirian, setiap pos juga ada amanat yang tersirat, dan berakhir menjelang shubuh.
SSB: Kegiatan ini dilaksanakan dini hari. Ya dibuat seperti simulasi bencana alam. Saat itu semua tertidur pulas, lalu tiba – tiba para senior membangunkan kita dengan ketukan pintu yang keras beserta suara “dek bangun!!! Ada gempa bumi!!!” yang tak kalah keras. Di tengah setengah sadar, sontak kami langsung keluar kamar dan menuju tempat yang ditunjuk senior. Ternyata menuju ke lapangan yang terdapat banyak “korban” bencana alam, baik yang luka – luka maupun mati. Yang kami rasakan: Tegang, dredeg, cemas, heran, bingung, panik, campur aduk-lah. Suara yang mendominasi yaitu suara pasien yang histeris kesakitan dan suara tangis para “keluarga” yang meminta tolong. Dengan kalimat khas, “Dek, tolongin keluargaku!!! Cepetan dek!!! Selak mati iki!!!”
*Jujur waktu itu aku sempet ketawa, ada senior yang aktingnya lebay. Hihihi.*
Dan buruknya lagi, pembalutan atau penanganan pada “korban” tidak berjalan dengan baik.
Bisa dibilang ancur, cur, cur banget.
Gimana nggak, lah dalam kondisi setengah sadar kita harus menolong “korban”
Di tengah gelapnya pagi, kurang penerangan.
Dan juga faktor kepanikan dari para senior.
Tapi asyik banget deh, secara nggak langsung kita disiapkan menolong siapa pun dan kapan pun
Saat pelantikan, anggota PSC 21 resmi beranggotakan 29 orang (26 perempuan dan 3 laki- laki).
Dua diantaranya tidak ikut, karena sakit (Farid dan Mawaddah).
Dengan bangga aku memakai seragam hari senin yang ada badge PMR
Dan aku resmi menjadi anggota PMR di sman 16 maupun di Surabaya.
Setiap senin, kini aku bisa ikutan “jaga” upacara bendera.
Dan siap sedia menolong yang sakit dan perlu bantuan
Sekitar akhir desember 2008, sertijab dilaksanakan.
Pergantian pengurus, dan aku jadi sie barbek *kalau nggak salah*
PSC 21 jadi anggota junior baru.
PSC 20 jadi senior, yang akan mengajarkan kami selama TL.
PSC 19 nonaktif, berhubung sudah kelas 3.
Panitia inti:
Ketum: Mas Irawan
Ketua 1: Mbak Kurnia Putri
Ketua 2: Mas Aghra
Akhir Januari, 2009.
Diklat ke-2, yakni Perjusa (Perkemahan Jum’at-Sabtu) dilaksanakan.
Tujuan diadakan diklat ini, ialah sebagai persiapan lomba.
Dan umumnya untuk memperoleh sweater angkatan.
Setiap angkatan wajib memiliki sweater dengan desain yang berbeda.
Desain sudah dibuat satu bulan sebelum perjusa.
Warna dasar sweater ialah, kuning dan putih
Aku ikut seleksi lomba, ikut lomba ialah salah satu alasan aku ikut ekskul PMR.
Dari SMP, aku sudah terbiasa ikut perlombaan seperti PMR.
Satu dari tiga kali perlombaan, Alhamdulillah mendapat juara
Yakni pada 27 Mei 2007 yang diselenggarakan oleh SMAN 1 Sidoarjo se-gerbangkertasusila.
Berhasil sebagai Juara 1 lomba PP Puteri.
Seperti waktu SMP, aku minat dengan tim PP.
Tapi bedanya, dulu aku bagian bikin tandu + satu kali pernah jadi korban.
Dan setelah mengalami post test mulai dari,
Medis 1: Pembalutan bagian kepala
Medis 2: Pembalutan anggota gerak atas dan bawah + badan
Medis 3: Pembidaian untuk patah tulang
Medis 4 & 5: Bikin tandu (butuh 2 orang)
Body Check: Bagian memeriksa seluruh tubuh, hingga akhirnya diketahui bagian mana yang sakit
Jadi total 1 tim PP ada 6 orang.
Jujur aku sempat pesimis, takut nggak bisa jadi tim PP
Yang jelas aku ikut seleksi dengan sebaik mungkin.
Sebelum TL ditutup, pengumuman tim –tim lomba dibacakan.
Alhamdulillah aku masuk tim PP lebih tepatnya di bagian medis 1
Di bagian, Medis 1: Anisah
Medis 2 + Body Check: Syadza
Medis 3: Viona
Medis 4 & Medis 5: Ninis dan Tiara
Korban: Ajeng
Harapanku, semoga tim ini jadi tim yang solid dan tangguh.
Dua minggu sebelum perlombaan, semua tim intensif latihan.
Berbagai Target dan konsekuensi dibuat untuk memacu semangat kita latihan.
22 Februari 2009.
Suasana di SMAN 19 Surabaya sebagai penyelenggara memanas.
Perlombaan dimulai dari pagi hingga sore hari.
Menjelang manghrib, seluruh perlombaan selesai dilaksanakan.
Waktu untuk pengumuman.
Dari 5 macam lomba yang diikuti, Alhamdulillah dapat 3 piala.
- Juara 2 PP Puteri (Alhamdulillah banget, eman nggak juara 1)
- Juara 1 PK (Perawatan Keluarga)
- Juara 2 CKDU (Cipta Karya Daur Ulang)
Emannya lagi, PSC gagal jadi juara umum
Padahal selisih poin dengan stemba (Sekolah Teknik Pembangunan atau yang lebih dikenal SMKN 5 Surabaya <- ini saingan terberat) nggak terlalu banyak
Dua minggu setelah ACIPRAJA, perlombaan smandela (SMAN 8 Surabaya, se-Jawa Timur) di depan mata.
Kegagalan mendapat juara umum di ACIPRAJA, membuat kita semakin semangat latihan.
Setiap pulang sekolah, setiap sore kita rutin dilatih senior kelas 2.
Target Smandela, harus bisa JUARA UMUM.
8 Maret 2009.
Setelah upacara pembukaan, perlombaan resmi dimulai.
Seperti biasa, sore hari perlombaan telah selesai.
Dan diumumkan, jantungku berdetak kencang.
Alhamdulillah PSC mendapatkan:
- Juara Harapan 1 PP Puteri (kali ini yang ditandingkan bukan kasus trauma melainkan kasus medis. Sehingga tim PP terpecah menjadi 2 tim) -> tim 1: Aku, Ajeng, Syadza.
- Juara Harapan 3 PP Puteri -> tim 2: Ninis, Viona, Tiara.
- Juara 3 PRS (Penyuluhan Remaja Sebaya) -> Selvi dan Fianca
- Juara 1 PK -> Finy dan Silvi
- Juara 3 PK -> Pipit dan Linda
- Juara 1 Traveling -> Mbak Mas’adah dan mbak Siti
Tiba saat yang paling menegangkan, pembacaan juara umum.
Ya Allah PSC gagal juara umum padahal biasanya PSC selalu juara umum
Kali ini lebih nemen lagi, PSC selisih hanya 2 POINT dari Stemba *Ya Allah, langsung nelangsa*
Rasanya sedih banget, kecewa dan nggak bisa bikin senior bangga dengan angkatan kita
Perlombaan selanjutnya cukup banyak selang waktu untuk mengerjakan proker lainnya.
Tepatnya pada 10 Mei 2009, yaitu WJP (Wahana Jumpa Prestasi) ke XVIII 2009.
Kali ini diadakan oleh Stemba (SMKN 5 Surabaya).
Dari sekian lomba PMR yang ada, perlombaan WJP ini yang paling bergengsi.
Lomba PMR ini tingkat Jatim, ditambah tamu kehormatan dari kalimantan.
Aku beruntung dapat mengikuti lomba PMR ini untuk ketiga kalinya.
Tentu saja, event perlombaan ini perlu kerja keras dan ketekunan latihan.
Itu semua kita buktikan satu bulan sebelum perlombaan, kita latihan intensif.
Dua minggu menjelang perlombaan, kita bingung mencar tempat untuk latihan.
Saat itu UNAS sedang berlangsung, otomatis sekolah harus dalam keadaan steril.
Akhirnya senior-ku yaitu mbak Mas’adah berbaik hati, rumahnya ditempati untuk latihan.
Syukur Alhamdulillah, mbak yang lebih akrab kita panggil “nenek” itu sangat berjasa bagi kami.
Di tengah hari liburan dampak unas, setiap hari kita berjuang keras dari pagi hingga sore hari.
Latihan terus menerus kita lakukan demi kesuksesan di WJP
10 Mei 2009.
Suasana di SMKN 5 Surabaya penuh persaingan.
Aku juga terlihat lebih gugup dari perlombaan biasanya.
Sewaktu menunggu tim-ku untuk bertanding, kita dikumpulkan di aula.
Karena tim yang mengikuti perlombaan ini sangat banyak, hingga siang hari tim-ku tak kunjung maju.
Cuaca waktu itu mendung, hingga hujan turun seketika.
Suasana aula juga tak kalah dingin dibanding luar sana.
Aku dan teman –teman sedikit panik.
Pasalnya, rekan satu tim-ku yaitu syadza punya sakit asma dan bisa kambuh kalau cuaca dingin.
Tuh kan, nggak lama kemudian Syadza kumat.
Syadza menggigil kedinginan, nafasnya sulit diatur alias sesek.
Waktu itu kita nolongin Syadza se-adanya saja.
Minyak putih kita pinjam dari tim lain, kalau nggak salah dari luar kota.
Terus 5 sweater kita lepas agar badan Syadza hangat.
Tapi itu pun tak cukup, beberapa selimut yang ada di tas PP kita pinjam dari tim lain.
Suasana aula memperlihatkan keperhatinan pada tim kami.
Banyak tim – tim lain yang peduli dan membantu Syadza *jujur aku terharu banget*
Di luar sana, hujan tak kunjung berhenti.
Syadza juga tak kunjung sadar.
Beberapa panitia membawa Syadza ke UKS Stemba.
Di sana Syadza dirawat oleh pelatih MAN Surabaya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang.
Kita semakin bingung dengan tim yang tinggal 5 orang ini
Pikiran kita, mungkin tim-ku akan di diskualifikasi
Ya Allah, aku tak berhenti berdo’a agar Syadza cepat sembuh.
Alhamdulillah Allah mendengar do’a kita.
Pukul 3, kondisi Syadza kembali pulih walaupun masih pucat.
Tim-ku memang belum dipanggil untuk maju.
Pak San pelatih kami, bertanya kepada Syadza.
“Gimana ca, sudah baikan? Sekiranya kuat nggak ngelanjutin lomba ini?”
Syadza menjawab, “InsyaAllah kuat pak.”
Ada secerca harapan untuk tetap optimis.
Waktu mendekati pukul 4 sore, tim kami akhirnya maju.
Bismillah, kita pasti bisa.
Dengan kemampuan yang kita punya, kita keluarkan semua saat lomba berlangsung.
Argument kita tentang teknik perlombaan, seupaya kita untuk mempertahankan di depan juri.
Aku tetap optimis, sekalipun tadi kita sedikit kesulitan menangani korban dan saingan yang terlatih.
Menjelang Isya’, segala macam perlombaan baru berakhir.
Tiba waktu pengumuman, pukul 19.00.
Syukur Alhamdulillah tim ku Juara 3 PP Puteri dan Juara 3 Cerdas Cermat
Terbayar sudah semua pengorbanan kita selama ini *Makasih Ya Allah*
Terbukti sudah tim PP ku bisa jadi tim yang solid, Alhamdulillah.
Orang yang pertama kali aku temui setelah aku turun panggung mengambil piala, ialah nenek.
Nenek yang melatih kita selama ini.
Nenek yang suka marah kalau kita nggak latihan atau malas latihan.
Nenek yang sabar dengan kenakalan kita.
Aku peluk nenek dan ku ucapkan terima kasih
Nyaris saja air mata-ku keluar saking terharu
Seperti biasa setelah perlombaan, sesuai tradisi semua angkatan wajib porsi (Push-up 16 kali)
Sebagai ungkapan rasa syukur atas pencapaian ini.
Kelas satu akan segera berakhir, dan waktu untuk berganti junior menjadi senior.
Sekitar bulan Juni, diadakan diklat terakhir yaitu Diksen (Diklat Senior).
Secara umum diklat ini untuk memperoleh scraft.
Dan secara khusus untuk mencari bibit – bibit ketum (Ketua Umum).
Satu tahun yang tidak singkat, dan penuh sarat.
Banyak hal, banyak pengalaman yang aku peroleh di satu tahun ini.
Banyak teman, baik seangkatan, senior, dan alumni.
Aku sungguh beruntung dan bangga bisa menjadi anggota PMR.
PMR bagaikan keluarga kedua ku selain di rumah
Tradisi –tradisi lama yang masih digunakan merupakan aset yang bermanfaat bagi para anggota.
Terima kasih banyak atas pelatih –pelatih PMR terdahulu.
Terima kasih banyak alumni –alumni yang masih care dengan PSC.
Terima kasih atas ajaran, tradisi, sistem kekeluargaan yang keren. PSC is the best


No comments:
Post a Comment