11 September 2016

Septi Peni Wulandari: Cermin 'Ibu Profesional' itu...



Narasumber: Septi Peni Wulandari
(Founder Ibu Profesional dan Penemu Berhitung Cepat Jaritmatika)
Record: 31 Juli 2016

Q-1: Awal mula tercipta Ibu Profesional pandangannya akan seperti apa? Karena Ibu Profesional identik dengan Ibu yang dijadikan ‘profesi’?

A-1: Sebenarnya arahnya bukan ibu yang dijadikan profesi. Kalau di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Profesional itu adalah mereka yang mengerjakan pekerjaannya dengan ilmu dan bersungguh-sungguh. Maka sekarang saya melihat bahwa keprofesionalan orang tua itu tidak dipikirkan. Yang ada adalah keprofesionalan di tempat kerja profesi yang selayaknya dianggap sebagai profesi yang menghasilkan uang. Itu baru dipikirkan benar-benar, cari ilmunya, cari sertifikasinya kemudian karena itu akan menentukan strata pendapatan. Sedangkan orang tua yang pertanggung jawabannya dunia akhirat itu tidak pernah dipersiapkan sungguh-sungguh. Adanya adalah Take for granted aja. Pasti semua orang akan menjadi orang tua sehingga yasudah mengalir saja gitu. Saya pikir ini menjadi kekacauan di Negara kita. Katanya kita itu Kuntum khairu ummah katanya kita adalah ummat yang paling baik, tetapi kita tidak menunjukkan langkah-langkah di komunitas keluarga kita yang terkecil saja kita tidak menyiapkan menjadi ummat yang terbaik, kita masih asal-asalan menjalankannya, maka saya berprinsip bahwa orang tua itu harus profesional. Menyiapkan ilmunya, ilmu mendidik anak itu apa, ilmu mengelola keluarga itu seperti apa, maka setelah itu dia akan naik levelnya menjadi orang yang pantas mendapatkan anak-anak hebat, karena semua anak itu lahir hebat. Orang tuanyalah yang harus memantaskan diri agar dia layak menerima amanah anak-anak yang hebat maka nanti ilmunya akan terus bergulir.

Q-2: Peran orang tua Bu Peni semenjak memutuskan untuk keluar dari PNS seperti apa hingga saat ini?
A-2: Kalau awalnya tidak mendukung, karena sampai orang tua saya bilang “Memang nggak ada laki-laki lain yang membolehkan kamu untuk menjadi PNS?” karena ibu saya mempunyai pengalaman single parent ditinggal bapak ketika anak masih kecil-kecil (meninggal), sehingga ibu saya punya prinsip perempuan itu harus punya pendapatan, kalian bisa dipermainkan suami/ bingung kalau suaminya meninggal kayak ibu. Maka saya bilang “Oke bu, saya akan mengambil prioritas bahwa saya akan mengerjakan proses mendidik anak dan mengelola keluarga ini dengan sungguh-sungguh, tapi saya akan buktikan ke ibu bahwa saya juga akan punya pendapatan. Maka akhirnya saya memiliki tahapan. Di tahapan ini:
1. Bunda sayang: Bagaimana saya bisa mendidik anak dengan baik dan benar.
2. Bunda cekatan: Bagaimana kita bisa me-manage diri kita dan keluarga kita sehingga menjadi sangat indah, sangat baik, sangat cekatan tidak bergantung pada orang lain.
3. Bunda produktif: Bagaimana bisa mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya, mendapatkan tambahan jati diri dirinya bahwa potensi diriku ini ketemu, ketika ketemu maka dia gunakan itu untuk kebermanfaatan bagi banyak orang.
4. Bunda Sholehah: bagaimana keberadaan ibu itu bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitar.


Q-3: Jika ada ibu yang ingin menjadi “Ibu Profesional” seperti Bu Peni, mulai startnya dari mana?
A-3: Startnya memulai dari memahami diri kita. Memahami potensi kekuatan diri kita dan potensi kekuatan suami. Jadi ini perlu dipahami betul suami itu kekuatannya di mana, istri itu kekuatannya ada di mana kemudian setelah itu adalah mensiasati kekurangan. Kan pasti masing-masing punya kekurangan ya? Maka mulailah dari mensiasati kekurangan. Kekurangannya dulu. Jadi apakah kita ini komplemen dengan suami. Misal kita baik disisi ini tapi buruknya yang di a, b, c, d, apakah suami bisa mengisi hal-hal tersebut. Kalau iya, berarti kita sudah menjadi orang tua profesional bekal pertamanya dapat dulu. Tapi kalau selama ini kita masih susah memahami diri kita, masih tidak tau diri kita ini siapa, kemudian pasangan kita juga tidak tahu, bahkan kekuatan dan kekurangannya kita tidak mengerti, maka ini langkah awal yang biasanya kita nanti masuk di hutan yang nggak ngerti arahnya, jalan petanya itu mau ke mana. Nah itu cara pertama. Kemudian berikutnya adalah kita ingin keluarga yang seperti apa? Kalau kita menginginkan keluarga seperti apa, berarti kita ini harus bisa menjadi istri yang seperti apa, bisa menjadi suami yang seperti apa, itu yang perlu dikuatkan. Kemudian kita ingin anak kita seperti apa, kemudia berikutnya adalah kita ini harus menjadi ibu yang seperti apa, menjadi bapak yang seperti apa, nah tahapan itu harus dijawab. Karena setelah itu adalah mulai berubah, kalau tidak berubah maka kalah. Maka kita bisa menguatkan apa yang bisa anda ubah nanti sore. Nanti sore harus berubah. Nah ketika berubahnya, maka lakukan saja. Misal nanti sore saya akan mengaji maka ini akan menguatkan agar anak saya menjadi anak yang sholeh. Ketika anak menjadi sholeh, maka orang tuanya harus sholeh dulu. Tidak mungkin untuk menjadi anak yang sholeh, orang tuanya tidak sholeh, begitu. Mulailah dari orang tuanya dulu yang berubah, agar anak-anak bisa berubah.

Q-4: Pesan dan tips untuk ibu yang tidak bisa menjadi Ibu Rumah Tangga yang seutuhnya, karena merangkap bekerja bagaimana?
A-4: Tidak ada yang salah kalau memang kondisi membuat kita harus bekerja maka yang pertama kali adalah yang perlu ditanyakan apakah dengan bekerjanya kita, kita bahagia, itu dulu. Karena ibu yang bekerja tidak bahagia itu akan menjadi neraka buat anak-anaknya. Karena pulang pasti akan marah-marah, emosi, dalam tekanan dan sebagainya. Maka bekerjanya kita di luar harus menambah rasa bahagia kita sehingga menambah keberkahan di rumah. Tapi kalau pertama tidak bahagia lebih baik untuk diputuskan tidak dulu. Karena rezeki tidak hanya dari situ. Yang kedua adalah harus kuat, energinya harus double karena ketika dia berangkat dari rumah dalam kondisi cantik maka pulang ke rumah harus sangat cantik. Berangkat dari rumah dalam kondisi sabar, pulang harus sangat sabar lagi. Berangkat rumah harum, pulang sangat harum. Jangan sisa-sisanya. Karena yang utama itu adalah rumah. Maka kalau keberkahan rumah itu bisa didapatkan biasanya karir akan menunjuang dengan sangat bagus. Itu artinya berkah. Tapi kalau tidak, biasanya kalang kabut nih, anak nggak keurus, suami nggak keurus, rumah nggak keurus. Kemudian eksistensi diri kita ternyata hanya pelarian diri dari rumah dan dari sisi finansial ternyata juga impas. Untuk transportasi, pembantu mungkin, beli catering ternyata impas maka perlu dipikirkan kembali. Usia emas anak itu 0-12 tahun. Usahakan kita mencari pekerjaan yang bisa fleksibel agar bisa mendidik anak seutuhnya. Agar kita tidak merasa kekurangan atau tidak ada penyesalan. Kadang penyesalannya ketika anak ingin dilepas kita baru mau memegangi terus, maka yang terjadi konflik. Karena setelah umur 12 tahun, jika dasarnya kuat, enak dilepas. Sudah senang dengan teman-temannya soalnya. Sudah nggak mau lagi dengan ibunya. Keputusan akan menjadi wanita karir atau IRT tidak ada yang salah, karena pilihan tersebut memiliki konsekuensi masing-masing. Asalkan pekerjaan kita sesuai passion. ‘Profesional dalam bekerja juga harus ‘profesional saat menjadi Ibu Rumah Tangga. Intinya jika dikerjakan dengan seimbang, maka hasilnya akan bagus.

No comments:

Post a Comment