Narasumber:
Septi Peni Wulandari
(Founder
Ibu Profesional dan Penemu Berhitung Cepat Jaritmatika)
Record:
31 Juli 2016
Q-1:
Awal mula tercipta ‘Ibu
Profesional’
pandangannya akan seperti apa?
Karena ‘Ibu
Profesional’
identik dengan Ibu
yang dijadikan ‘profesi’?
A-1:
Sebenarnya arahnya bukan ibu yang dijadikan profesi. Kalau di dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia,
‘Profesional’ itu adalah mereka yang mengerjakan
pekerjaannya dengan ilmu dan bersungguh-sungguh. Maka sekarang saya melihat
bahwa keprofesionalan orang tua itu tidak dipikirkan. Yang ada adalah keprofesionalan di tempat
kerja profesi yang selayaknya dianggap sebagai profesi yang menghasilkan uang.
Itu baru dipikirkan benar-benar, cari ilmunya, cari sertifikasinya kemudian
karena itu akan menentukan strata pendapatan. Sedangkan orang tua yang
pertanggung jawabannya dunia akhirat itu tidak pernah dipersiapkan
sungguh-sungguh. Adanya adalah Take for granted
aja. Pasti semua orang akan menjadi orang tua sehingga yasudah mengalir saja
gitu. Saya pikir ini menjadi kekacauan di Negara kita. Katanya kita itu ‘Kuntum khairu ummah’ katanya kita adalah ummat yang paling
baik, tetapi kita
tidak menunjukkan langkah-langkah di komunitas keluarga kita yang terkecil saja
kita tidak menyiapkan menjadi ummat yang terbaik, kita masih asal-asalan
menjalankannya, maka saya berprinsip bahwa orang tua itu harus ‘profesional’. Menyiapkan ilmunya, ilmu mendidik anak
itu apa, ilmu mengelola keluarga itu seperti apa, maka setelah itu dia akan
naik levelnya menjadi orang
yang pantas mendapatkan anak-anak hebat, karena semua anak itu lahir hebat.
Orang tuanyalah yang harus memantaskan diri agar dia layak menerima amanah
anak-anak yang hebat maka nanti ilmunya akan terus bergulir.
Q-2:
Peran orang tua Bu Peni semenjak memutuskan untuk keluar dari PNS seperti apa
hingga saat ini?
A-2: Kalau awalnya tidak mendukung, karena
sampai orang tua saya bilang “Memang nggak ada laki-laki lain yang membolehkan
kamu untuk menjadi PNS?” karena ibu saya mempunyai pengalaman single parent ditinggal bapak ketika
anak masih kecil-kecil (meninggal),
sehingga
ibu saya punya prinsip perempuan itu harus punya pendapatan, kalian bisa
dipermainkan suami/ bingung kalau suaminya meninggal kayak ibu. Maka saya
bilang “Oke bu, saya akan mengambil prioritas bahwa saya akan mengerjakan
proses mendidik anak dan mengelola keluarga ini dengan sungguh-sungguh, tapi
saya akan buktikan ke ibu bahwa saya juga akan punya pendapatan. Maka akhirnya saya
memiliki tahapan. Di tahapan ini:
1. Bunda sayang: Bagaimana saya bisa mendidik anak dengan
baik dan benar.
2. Bunda cekatan: Bagaimana kita bisa me-manage diri kita dan keluarga kita
sehingga menjadi sangat indah, sangat baik, sangat cekatan tidak bergantung
pada orang lain.
3. Bunda produktif: Bagaimana bisa mandiri secara finansial
tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya, mendapatkan tambahan jati diri
dirinya bahwa potensi diriku ini ketemu, ketika ketemu maka dia gunakan itu
untuk kebermanfaatan bagi banyak orang.
4. Bunda Sholehah: bagaimana keberadaan
ibu itu bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitar.
Q-3:
Jika ada ibu yang ingin menjadi “Ibu Profesional” seperti Bu Peni, mulai
startnya dari mana?
A-3:
Startnya memulai dari memahami diri kita. Memahami potensi kekuatan diri kita
dan potensi kekuatan suami. Jadi ini perlu dipahami betul suami itu kekuatannya
di mana, istri itu kekuatannya ada di mana kemudian setelah itu adalah
mensiasati kekurangan. Kan pasti masing-masing punya kekurangan ya? Maka mulailah
dari mensiasati kekurangan. Kekurangannya dulu. Jadi apakah kita ini komplemen
dengan suami. Misal kita baik disisi ini tapi buruknya yang di a, b, c, d,
apakah suami bisa mengisi hal-hal tersebut. Kalau iya, berarti kita sudah
menjadi orang tua profesional bekal pertamanya dapat dulu. Tapi kalau selama
ini kita masih susah memahami diri kita, masih tidak tau diri kita ini siapa,
kemudian pasangan kita juga tidak tahu,
bahkan kekuatan dan kekurangannya kita tidak mengerti, maka ini langkah awal
yang biasanya kita nanti masuk di hutan yang nggak ngerti arahnya, jalan
petanya itu mau ke mana. Nah itu cara pertama. Kemudian berikutnya adalah kita
ingin keluarga yang seperti apa? Kalau kita menginginkan keluarga seperti apa,
berarti kita ini harus bisa menjadi istri yang seperti apa, bisa menjadi suami
yang seperti apa, itu yang perlu dikuatkan. Kemudian kita ingin anak kita
seperti apa, kemudia berikutnya adalah kita ini harus menjadi ibu yang seperti
apa, menjadi bapak yang seperti apa, nah tahapan itu harus dijawab. Karena
setelah itu adalah mulai berubah, kalau tidak berubah maka kalah. Maka kita
bisa menguatkan apa yang bisa anda ubah nanti sore. Nanti sore harus berubah.
Nah ketika berubahnya, maka lakukan saja. Misal “nanti sore saya akan mengaji” maka ini akan menguatkan agar anak saya
menjadi anak yang sholeh. Ketika anak menjadi sholeh, maka orang tuanya harus sholeh
dulu. Tidak mungkin untuk menjadi anak yang sholeh, orang tuanya tidak sholeh,
begitu. Mulailah dari orang tuanya dulu yang berubah, agar anak-anak bisa
berubah.
Q-4:
Pesan dan tips untuk
ibu yang tidak bisa menjadi Ibu
Rumah Tangga yang seutuhnya, karena merangkap bekerja bagaimana?
A-4:
Tidak ada yang salah kalau memang kondisi membuat kita harus bekerja maka yang
pertama kali adalah yang perlu ditanyakan apakah dengan bekerjanya kita, kita
bahagia, itu dulu. Karena ibu yang bekerja tidak bahagia itu akan menjadi
neraka buat anak-anaknya. Karena pulang pasti akan marah-marah, emosi, dalam
tekanan dan sebagainya. Maka bekerjanya kita di luar harus menambah rasa
bahagia kita sehingga menambah keberkahan di rumah. Tapi kalau pertama tidak
bahagia lebih baik untuk diputuskan tidak dulu. Karena rezeki tidak hanya dari
situ. Yang kedua adalah harus
kuat, energinya harus
double
karena ketika
dia berangkat dari rumah dalam kondisi cantik maka pulang ke rumah harus sangat
cantik. Berangkat dari rumah dalam kondisi sabar, pulang harus sangat sabar
lagi. Berangkat rumah harum, pulang sangat harum. Jangan sisa-sisanya. Karena yang utama itu adalah
rumah. Maka kalau keberkahan rumah itu bisa didapatkan biasanya karir akan
menunjuang dengan sangat bagus. Itu artinya berkah. Tapi kalau tidak, biasanya
kalang kabut nih, anak nggak keurus, suami nggak keurus, rumah nggak keurus.
Kemudian eksistensi diri kita ternyata hanya pelarian diri dari rumah dan dari
sisi finansial ternyata juga impas. Untuk transportasi, pembantu mungkin, beli
catering ternyata impas maka
perlu dipikirkan kembali. Usia emas anak itu 0-12 tahun. Usahakan kita mencari pekerjaan
yang bisa fleksibel agar bisa
mendidik anak seutuhnya. Agar kita tidak merasa kekurangan atau
tidak ada penyesalan. Kadang penyesalannya ketika anak ingin dilepas kita baru
mau memegangi terus, maka yang terjadi konflik. Karena setelah umur 12 tahun, jika dasarnya kuat, enak dilepas. Sudah senang dengan
teman-temannya soalnya. Sudah nggak mau lagi dengan ibunya. Keputusan akan menjadi wanita karir
atau IRT tidak ada yang salah, karena pilihan tersebut memiliki konsekuensi masing-masing.
Asalkan pekerjaan kita sesuai passion. ‘Profesional’ dalam bekerja juga harus ‘profesional’ saat menjadi Ibu Rumah Tangga. Intinya jika dikerjakan dengan
seimbang, maka hasilnya akan bagus.
No comments:
Post a Comment